[Puisi] Ketika Senja Pergi, Dirimu Ikut Serta

[Cerpen] Masserempulu-Bagian 1


Massenrengpulu, yah suatu slogan di kota ini yang artinya kalau tidak salah, menyusuri gunung atau menjelajahi gunung. Benar saja disetiap sudutnya terdiri dari gunung yang berdiri dengan kokohnya.

Lokasi KKN ku pun katanya berada di kota, yups kota ini lebih tepatnya dijuluki ada gunung diatas kota. Tahu tidak, untuk sampai ke lokasi ini perlu nyali yang kuat dan istigfar banyak. Jalanan yang sempit dan hanya bisa dilalui oleh 1 mobil saja. Di salah satu sisi jalan ada tebing disisi lainnya jurang.

Jalannya berkelok bagaikan ular yg sedang melilit. Mendaki, menurun, menikung, jalan rusak, sudah menjadi hal biasa bagi penduduk sini. Klakson mobil atau motor sangat penting disini, karena setiap tikungan jalan diwajibkan membunyikannya agar tidak terjdi hal yang tidak diinginkan. Selain klakson rem juga wajib sekali untk diperhatikan sebelum kesini. Jalan yang menurun dengan kemiringan yang hampir tegak lurus, mengharuskan kita untk tetap stay dengan rem. Motor matic bukan pilihan yang baik digunakan ke tempat ini.

Disini tidak ada pasar, hanya ada di kota. Masyarakat ke pasar setiap hari senin dan kamis katanya itu pasar ramainya. Selama hampir 3 pekan disini baru 2 kali ke kota. Itupun hanya nebeng dgn mobil yang kebetulan akan ke kota.

Saat hari ke 3 disini, di meja makan ada gelas yg berisi kuah kaldu dan sepiring ayam yang irisannya besar serta sebakul nasi. Pemandangan yang biasa sebenrnya. Tapi pada saat Bapak posko datang dia menjelaskan perihal kuah yg ada digelas itu. Dia mempraktikkan cara makan yg khas di desa ini. Kuah dan ayamnya terpisah jdi katanya makan nasi dulu lalu ayamnya terakhir kuahnya. Tradisi ini namanya ma'balla, artinya makan tidak pake piring melainkan pake daun jati yg lebar, porsi nasinya pun banyak sekali.

Lain kali lagi saya ceritakan tentang adat orang disini yang masih sangat kental dan masih menjunjung tinggi sifat gotong royong.

BERSAMBUNG................


Nopi Hatriani,  Enrekang 08 Oktober 2019.

Komentar