[Puisi] Ketika Senja Pergi, Dirimu Ikut Serta

[Esai] Isak Haru KKN

Suatu perkara yang cukup berambisius bagi mahasiswa semester-semester akhir. Mau tidak mau harus melalui yang namanya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bagi aktivis, mungkin hal yang lumrah untuk dijalani. Sebab memang, nuraninya sudah sering terlibat langsung dengan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat bahkan sudah menjadi hobi bagi mereka yang kesehariannya kesana kemari menjelajahi problematika yang terjadi di kampus maupun di masyarakat. Apalagi kita ketahui, KKN notabenenya di laksanakan tepat pada wilayah desa-desa suatu daerah bahkan bisa jadi di pelosok negeri yang tidak dijangkau oleh jaringan sama sekali. Lantas, bagaimana dengan mereka yang belum terbiasa dihadapkan dengan kondisi-kondisi tersebut? tentu hanya isak haru yang bisa mengantarkan mereka pada gerilyanya keharusan menjalani KKN.

Kali ini penulis akan bercerita terkait Mahasiswa KKN Angkatan 2016 Universitas Negeri Makassar. Euforiapengumuman penempatan lokasi KKN yang jatuh pada hariSelasa (10/09/19) . Menjadi berita gembira bagi mereka yang ditempatkan sesuai ekspektasinya. Sedangkan, banyak pula yang bertolak belakang dengan keinginan penempatannya. Entah dari sisi jauh dekatnya wilayah yang ia dapat atau dari sisi dengan siapa ia ditempatkan. Berpacu pada hal ini, melalui pendekatan diluar prosedural, toh yang lazim digunakan oleh mereka yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak berwenang. Alhasil beberapa dari mereka berhasil mengubah penempatan sesuai dengan keinginannya. Namun adapula yang abai terhadap hal tesebut.

Tepat pada hari itu juga, momentum pelepasan Peserta KKN disinyalirkan oleh bapak rektor langsung. Beliau sempat menyampaikan protesnya terhadap mahasiswa yang terlambat datang pada saat itu. “ bagaimana mungkin kalian mengabdi ke daerah, bila persoalan disiplin waktu saja anda tidak bisa.” ucapnya bapak rektor. Sebagian mahasiswa tercengang mendengar ketegasan rektor kali itu.

Setelah acara formal pelepasan tersebut, para mahasiswa diarahkan agar bersama-sama berkumpul dengan pembimbing dan teman-teman selokasi KKN-nya. Paling tidak, dikumpulkan untuk mengisi absensi pertama pertemuan dari berbagai macam jurusan seuniversitas.

Seiring mengalirnya waktu, tepat pada hari minggu pemberangkatan pertama lokasi KKN sektor mamuju diberangkatkan, tepat bagda maghrib. Kemudian berlanjut di hari-hari selanjutnya yakni sector Polman, Takalar, Pangkep, Enrekang dan terakhir Maje’ne. Seperti tahun-tahun kemarin, titik lokasi pemberangkatan dipenuhi sanak keluarga,teman-teman maupun dari kalangan asing bagi mahasiswa KKN Angkatan 16 itu. Tangis kiranya mendidih dipelupuk mata mereka yang baru kali pertamanya berlepas diri. Bukan sekadar itu, status di beberapa sosialmedia pun menjadi wadah penuangan curhatan antaranya.. Paling menyedihkan bagi mereka yang diseduhi isak tangis oleh tim pengantar yang tidak bisa dihitung jari. Makanya ada yang merasa, suatu dosa yang tergeletak di batin tersendiri ketika tidak menjadi bagian dari tim pengantar. Sampai-sampai salahsatu dosen pembimbing yang menyaksikan berceloteh“ sayakira mereka juga peserta kkn, kasihan bus yang dipesan tidak mencukupi.”

Suatu pelipur bahagia tersendiri bagi mereka yang tim pengantarnya hanya satu atau dua orang saja bahkan tidak ada sama sekali, sebab tidak banyak yang harus menangisi keberangkatannya menuju lokasi pengabdian. Pertanyaannya, kenapa harus ada tangis? Toh, kita menggenggam tri darma perguruan tinggi untuk kemudian kita realisasikan di tanah pengabdian selama 3 bulan. tuturnya bagi mereka mahasiswa tegar yang terpaksa tidak mengucurkan air mata pada kesempatan itu.

Sungguh KKN menjadi momen bersejarah bagi siapapun yang ingin, sedang dan telah  mengalaminya.

Macam rupa cara mereka mempersepsikan dan mengekspresikan KKN itu. Tidak jarang mereka menganggap KKN hanya formalitas bila pembimbing tidak syarat perhatian terhadap anak-anak bimbingannya, ada yang beranggapan KKN ialah wadah yang tepat penuangan praktik terhadap teori-teori yang diserap selama ini di bangku kuliah. Ada yang mendefinisikan KKN sebatas liburan, wajar saja jika ada istilah lakukan ini, cekret dululah. Biar mereka tahu lokasi KKN kita indah. Bahkan kengeriannya ada yang menganggap KKN adalah ajang menyatakan cintanya bagi kaum yang dipatok selama berlangsungnya pengabdian.

Menurut penulis tidak ada yang salah dari cara mereka berekspresi dan berasumsi. Sebab dari penulis sendiri, seperti ini “ Boleh jadi yang kau anggap baik belum tentu baik bagi orang lain. Maka, percayakan lakumu pada nurainimu saja.”

Akhir dari penulis, Selamat Mengabdikan diri para mahasiswa yang sedang menjalani KKN.

Semangat sampai tujuan.

Pantang pulanglah sebelum mengutarakan manfaatmu dilokasi abdi.



Susi Susanti, 20 September 2019.

Komentar