[Puisi] Ketika Senja Pergi, Dirimu Ikut Serta

[Esai] Trip KKN Bag. 7, Pelampiasan Rasa & Adik Baru!


Tidak ada hujan tanpa mendung, tidak ada asap tanpa api. Kita tidak bisa memilih lahir dari orangtua mana. Tapi, kita bisa memilih dan mengarahkan anak agar menjadi dan berperilaku seperti apa.

“Nak, ditinggal pergi sama bapaknya. Sejak kecil sama mamanya terus. Bahkan, mamanya juga sibuk berkebun jadi biasa tidak nah perhatikan.” Jelas ibu desa

“Oiya bu!”

Pada akhirnya, terjawab salah satu hal yang menjadikannya berperilaku begitu. Sembari menunggu waktu mengajar mengaji, berfikir menemukan solusi untuk mengubah anak ini. Anak ini kemungkinan belum mampu mengelolah emosinya. Emosi kesedihan yang tidak tersalurkan dengan baik. Pelampiasan rasa yang mesti diluruskan.

Anak tersebut masih kecil, mengubah pribadi yang kurang baik menjadi baik pasti bisa dilakukan. In Syaa Allah, selama kita meminta pertolongan Allah dan berikhtiar. Lalu, menyerahkan semuanya kepada Allah.

Untuk apa melakukan ini? Saat dirimu sadar, guru mengaji, bukan hanya menjadi guru transfer ilmu tajwid, membaca Al-Qur’an, doa hafalan harian atau hafalan surah pendek. Tapi, jauh dari itu semua, mendidik beraklak Al-Qur’an dan beradab juga jauh lebih penting. Sebagaimana yang kuamati  dan kupelajari kakak Lembaga Dakwah sekaligus kakak di pondok mengajari anak-anak mengaji sembari membubuhi teladan ajaran adab dan akhlak.

Tidak terasa, waktu menunjukkan jam saatnya mengajar mengaji bersama anak-anak. Bersama anak-anak shalat Ashar berjama’ah disusul mengaji. Spesial untuk anak laki sholeh terganteng, sebab seorang diri diantara anak perempuannya. Kuminta agar terakhir mengaji sembari memberikan hadiah untuknya.

“Nak, kita terakhir mengaji setelah semua anak perempuannya, boleh yah?” mintaku kesepakatan pada anak ini dengan hati-hati
“Iyee le Ustadzah! (Iyee le : Iyaa)
“Janji tidak memukul?”
“Iyee le”

Senyum lebar menghiasi bibirku. Alhamdulillah, mulai menuruti perkataanku perlahan.
Setelah semua anak perempuannya usia. Kini, tibalah giliran dirinya.

‘Ustadzah, IQRA 4 saja yah?” pintanya padaku sembari merengek-rengek
“Bersabar nak, kembali ke halaman IQRA yang sebenarnya! Kalau lompat-lompat mengajinya. Nanti tidak ditahu juga mengaji” tegasku pada anak ini.

Wajahnya tiba—tiba cemberut dan mengaji dengan kondisi setengah hati. Tiba-tiba, terbesit pikiranku untuk mengantarnya pulang.

“Nak, kalau sudah mengaji. Ustadzah antar pulang, mau ngga?” tawarku pada anak ini
“Iya le? Baiklah” matanya berbinar dan segera menyelesaikan halaman IQRAnya
Usai mengaji, langkahku riang bersama anak yang katanya nakal ini menuju rumahnya. Entah kenapa, diriku merasa bahwa anak ini anak baik sebenarnya.. Hanya perlu dibimbing dan diberi teladan yang baik.

Dalam perjalanan, mengajaknya berbincang dan tiba-tiba menyatakan perasaan padanya.

“Nak, tahu ngga? Ustadzah sayang sama ….. karena Allah”  ungkapku tiba-tiba
Anak itu tersipu malu.
“Nak, mau tidak jadi adiknya ustadzah? Soalnya ustadzah tidak punya adik laki-laki”
“Iya le!”
“Jadi, panggil kakak aja. Dan kakak itu akan jadi pelindung dan pendengar yang baik. Jadi, kalau adek punya masalah di sekolah atau apapun, cerita sama ustadzah yah!”
“Iya le!
“Semoga nanti jadi anak sholeh”

Muhammad Ali, si kecil yang nakal karena suka bertarung semasa kecil menjadi petinju hebat
Thomas Alva Edison, si kecil yang nakal sulit belajar menjadi penemu lampu
Percayalah! Semua anak itu baik…
Berawal dari mengajarkan kebaikan
Menanamkan keistiqomahan untuk senantiasa melakukan kebaikan
Dan memperbaiki kesalahan selama prosesnya

“Ibu, pernah dengar Imam Syafi’i dan penemu lampu?” awalku membuka percakapan dengan ibu dari anak istimewa ini.


“ Tidak nak

Nur Faida, di lokasi KKN.

Komentar

  1. Bingung mau ngapain? mendingan main games online bareng aku?
    cuman DP 20rbu aja kamu bisa dapatkan puluhan juta rupiah lohh?
    kamu bisa dapatkan promo promo yang lagi Hitzz
    yuu buruan segera daftarkan diri kamu
    Hanya di dewalotto
    Link alternatif :
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.com

    BalasHapus

Posting Komentar