Desa Temban, kecamatan Enrekang, Sulawesi Selatan. Malam yang dipenuhi langit gugusan bintang-bintang dan Allah pula yang jadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar. Memandangi sambil merenungi ciptaan Allah yang menakjubkan. Ma Syaa Allah, menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.
Setiap orang bisa jadi guru untuk kehidupan kita. Orang yang bersikap baik terhadap kita bisa jadi guru diteladani kebaikannya. Orang yang bersikap buruk terhadap kita bisa diambil pelajaran agar tidak melakukan sikap buruk. Bukan tentang banyaknya kata-kata, tapi perilaku yang terbentuk.
Dan, kuawali perjalanan KKN saat pertama kali sampai di lokasi KKN, mencari anak-anak yang bisa diajar mengaji dan mendapat jatah anak-anak perempuan untuk mengajar mengaji. Mengajar anak mengaji, salah satu cara agar bisa istiqomah dekat dengan Al-Qur’an dan berdakwah dengan mengajarkan Al – Qur’an saat KKN. Menginggat kembali hadits tentang Al-Qur’an yang diajarkan pada saat Tahsin.
‘Sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”
Maka, jangan ragu mencari, selagi dirimu bisa.
“Ustadzah baru datang” teriak lengkingan anak- anak perempuan
Ustadzah, panggilan yang memotivasi agar berusaha menjadi lebih baik. Bukan hanya sekedar guru mengaji yang mengajarkan IQRA’ dan Al-Qur’an, tapi berusaha mentranferkan akhlak dan adab. Sebab, diusia mereka antara 7-14 tahun, jika merujuk fiqih anak, anak-anak sudah sangat penting diajarkan yang mana boleh dan tidak diperbolehkan, akhlak dan adab.
Saat langkah kaki ini memasuki masjid, kebahagiaan menelusup ke lubuk hatiku. Melihat keceriaan mereka mengerumuniku. begitu bahagia kedatangan guru mengaji perempuan. Sebenarnya, disini sudah ada ustadznya. Namun, barangkali ada perasaan berbeda yang dirasakan anak-anak perempuan karena perempuan yang mengajarinya. Dan juga, untuk psikologi anaknya, panutan dan kedekatan dengan kakak perempuan di proses usia ini sangat penting, Agar anak-anak perempuan menyadari pribadinya sebagai perempuan dan berperilaku. Apalagi kalau sudah baligh^^ ada batasan yang harus diajarkan.
Hari pertama sampai satu bulan telah terlewati, semangat dari anak-anak perempuan tersebut yang membuat terharu. Selama mengajar, mereka datang pada 1-2 jam dari jadwal yang ditentukan. Di waktu itu, diri masih di sekolah. Namun, anak-anak menunggu dengan sabar sambil bermain dengan teman sepermainannya.
Pada suatu kejadian, ada kodisi fisik yang melemah karena mengajar di sekolah dan program kerja yang mesti diselesaikan berderetan waktunya. Namun, saat akan menghampiri masjid, membuatku terteguk seketika.
“Ustadzah sudah datang dari sekolah! Yeh, kita mengaji” teriak mereka sambil berkejaran keluar dari masjid dan memelukku satu demi satu.
Kata meliburkan yang ingin terlontar, terkubur begitu saja. Bahkan, para ibu biasa bercerita bahwa anak-anak tidak mau tidur siang dan marah kalau tidak dibangunkan saat tidur siang karena takut ketiduran dan terlambat untuk mengaji. Terlebih di desa itu kurang guru mengaji, jadi masyarakat dan anak-anak begitu antusias jika ada Mahasiswa KKN atau utusan Kampus mengajarkan mengaji anak-anak di desa.
Malu,
Pada anak di desa. kecintan mereka untuk belajar IQRA’ dan Al-Qur’an.
Seberapa besar semangat ini mengikuti belajar Al-Qur’an?
Jangan kalah anak kuliah,
Diwadahi untuk tempat belajar membaca Al-Qur’an masih mengabsen diri
Bermalas-malasan sedangkan tahu bahwa pentingnya belajar Al-Qur’an
Apalagi, kepandaian membaca Al-Qur’an adalah salah satu identitas muslim dirimu,
Terlambatpun jadi rutinitas saat akan tahsin
Tidakkah diri malu dengan anak di desa?
Nur Faida, di lokasi KKN.
Komentar
Posting Komentar