Jika kau memilih jadi sarjana maka yakinkan saja bahwa kau akan melalui masa itu, iya, masa KKN bagian dari mata kuliah dan pengabdian. Maka Tuhan dalam perjalanan menuju dan mengakhirinya izinkan dia lupa.
Terlalu banyak hal yang dapat diceritakan hingga dia dalam cerita ini punya banyak peran, dia juga banyak warna dan dia juga ada dimana-mana, maka Tuhan jaga dia dari lupa.
Jauh sebelum kaki akan melangkah dia saat itu berharap pada sang ilah bahwa dia yang kawannya akan peduli dengan lokasinya, nyatanya dia hanya peduli dengan pribadinya dan golongannya. Maka, dia pun harus terpisah puluhan kilometer dengan dia yang katanya kawannya.
Dia yang hendak melepaskan seluruh kawannya haruslah mulai melangkahkan kakinya, di depan gedung yang tinggi mereka berbaur air mata saling berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan, namun sayang seribu sayang hal itu tidak dia lakukan untuk besoknya. Dia tidak lupa, hanya menjadi lambat hingga berakhir pada penyesalan karena tak mampu melepas dia, dia, dia, dia, dan mungkin dia tanpa pelukan dan salam perpisahan. Bahkan berakhir dengan luapan air mata penyesalan.
Adapun Dia yang melepas malam terakhir dengan dia yang akrab namun asing di tempat umum untuk sekedar menikmati sebuah sajian sederhana, dan dia saat itu juga mulai merasa bahwa dia ada yang berbeda.
Atau mungkin tentang dia yang selalu tersebutkan namanya menjadi point penting dari dia yang akan melangkah meninggalkan, ternyata Tuhan berkata lain dia membuat harapan untuk dia tercapai esoknya. Dan nyatanya bukan hanya dia saja namun, dia yang keakraban lain dari tingkatnya pun ada untuk melihat langkahnya.
Sedang Dia yang tertinggal di Kota Metropolitan harus bersabar bahwa pergi ini hanya sementara. Jarak dia dengan, dia,dia,dia,dia,dia dan mungkin dia tidak boleh memisahkan. Bahkan dia harus yakin, dia tidak sendiri, di sana ada dia dan dia yang jadi kawan mainnya dia hingga dia lelah.
Dia yang menuju dan akan menetap untuk sementara pada tanah pengabdiannya harus menjadi 10 wajah dalam menutup sifatnya, maka dia pun harus yakin bahwa rumah, ruang dan sekolah itu akan dia habiskan waktunya bersama dia, dia,dia,dan dia yang asing dan akan mensaudara.
Hingga jadikan dia lupa bagaimana rasanya terpisah dari dia yang ada di tanah yang tertinggalkan. Dia yang datang untuk mengabdi, akhirnya menjadi bagian dari pelaksana, dan akan mengambil bagian, hingga dia dengan niatnya yang baik berbalas temu dengan ucap kotor dari dia yang belum teringat namanya yang akan sulit menjadi generasi penerus bangsa, yahhh jika dia tanpa perubahan.
Tidak lupa dia yang dalam usahanya meninggalkan jarak harus menuai sedih berlimpah, karena takdir tidak berada pada dia. Dia bersama dia dan dia telah sullit untuk mencapai tempatnya, bahkan hingga iya akan kembali pada tanahnya dia begitu sulit dan sayangnya dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk dia. Gundah gelisah dia rasakan untuk dia hingga terdengarkan kabar akhirnya dia kembali pada tanah pijakannya.
Untuk tahu tempat itu dan sekitarnya Dia yang hobi mengelana punya jalan sendiri untuk menampakkan indah dunia di tanah pengabdian, tapi tentunya itu bukanlah dia yang senang untuk mengambil lokasi pribadi. Dia berkeliling untuk tujuan tertentu dan menikmati petang namun berakhir pada ketersesatan membawa kegembiraan akibat berkeliling.Tidak hanya disana, dia juga menikmati bagaimana berada di atas sampan setelah sekian lama, yahh dia merasa berada seperti di rumah sendiri dengan menelusuri kebun demi kebun dan jalan setapak sekitarnya.
Namun, karena katanya hal ikhwal yang berakhir pada rasa sekedar pengharapan maka kota metropolitan adalah tujuan dia saat kemarin. Tapi, satu hal menyedihkan dari dia yang menjadi point utama, adalah dia adalah pulang yang tidak dirindukan. Maka buatkan dia tembok tinggi agar dia pun tak mampu untuk memanjatnya kembali. Namun, sayangnya tembok itu telah berkali –kali di bangun tapi punya seribu lubang yang dapat di tembus hingga telah berkali –kali pun tembok itu runtuh jika dia telah merasakan aura dia.
Senin hingga Rabu itu damai, dikala susahnya dia, dia pun tidak pisah dari dia, dia, dia yang habiskan waktu di tanah tertinggalkan Hingga petang saat itu nampaknya cukup jahat, yang akhirnya memisahkan dia, dia, dia yang sedari tadi terus bersama, duduk berbagi kisah, canda dan menikmati saat terakhir untuk sesaat, apa yang jadi jalan cerita akan terukir selanjutnya ketika dia melangkah kembali ke tanah abdinya. Namun saat itu perlu dikenang lebih dalam oleh dia, yang rasanya seperti lahir kembali dengan keakraban dia.
Ada cerita lain dari rasa berada di depan calon generasi penerus bangsa, bukan hanya dia yang alami tapi, dia, dia,dan dia yang lainnya pun juga rasa bahwa tugas itu tidak ringan, ada seperangkat hal yang harus dia pahami dan dia ingat pada saat bersamaan. Intinya bagi dia itu adalah yang namanya guru karena semua itu pengalaman. Dia wajib menjalankan apa yang jadi tanggungjawab dia di tanah abdi. Hari-hari itu di isi dengan mencoba untuyk memanusiakan manusia yang bukan, begituka? Bahwa perkembangan zaman membuat dunia pengetahuan menjadi tidak cantik lagi, dia yang ingin dimanusiakan punya banyak jenis dan modelnya, dia harus mengerti bagaimana menjadi dia yang mampu memanusiakan yang bukan manusia selama di tanah abdi.
Karena nyatanya dia hanyalah manusia, maka saat itu memang sulit terelakkan. Dia pernah dengar bahwa dia begitu sulit dalam hidup saat masih menjadi anak. Faktanya walau baru 2 pekan dengan dia, dia, dia dan dia, dia bisa tahu hampir segalanya tentang dia terutamanya dia, yang menjadi satu-satunya cucu adam menggambarkan susahnya dia selama di tanah abdi. Sedang dia yang lain ada banyak rasa, seakan akan permen, tapi dia hanya harus mengerti bahwa dia dan dia yang lainnya akan lama ditanah hunian.
Namun, tahukah dia yang disana bahwa, ketika dia harus mencapai titik ketidakmampuan saat dia usai menyelesaikan banyak hal pada saat bersamaan hingga dia harus meringkukkan diri dengan maksud merasa lebih baik. Dia pun sadar bahwa diamnya dia ketika jatuh pada ketidakmampuan itu mengingatkan dia pada sosok yang sama-sama beku dan bisu saat kondisi demikian, yaaa, dia selalu begitu dan dia akhirnya tahu bahwa malam itu dia hanya mengingat dia meskipun dia melihat dia yang adam lain dihadapan dia yang sama pada ketenangan akan ketidakmampuan.
Indah Nur Pratiwi. Enrekang, 06 Oktober 2019
Komentar
Posting Komentar