PEMBATALAN BERLABUH
Sebelumnya sudah kuberi tahu bahwa kau jangan berharap, benar katanya bahwa harapanmu jangan kepada manusia, harusnya hanya kepada yang di Atas saja, karena harap pada manusia hanya ciptakan calon calon kekecewaan.
Kapal tuanku pernah menepi di suatu dermaga tepat 2 Tahun yang lalu, namun hingga saat ini pemilik pelabuhan nampaknya tidak sadar ataukah hanya membiarkan kapal tuanku di sana, mengapa? Padahal kapal itu asing dan berbeda dari kapal yang harusnya tiba di pelabuhan. Meski pemilik pelabuhan Itu dekat dengan Tuanku tapi mereka saling mengenal tidak sebagai pemilik pelabuhan dan kapal asing yang ada di dermaga, mereka akrab lebih seperti teman dan partner kerja yang saling mendukung.
Hingga suatu saat, tuanku sebagai pemilik kapal itu hendak pergi tidak dengan kapalnya, menyelesaikan apa yang memang jadi tugasnya di tempat yang cukup jauh, hingga ia tidak lagi bertemu dengan pemilik pelabuhan itu cukup lama. Hingga suatu saat karena pekerjaan itu, tuanku bertemu dengan banyak orang dari Tim Proyeknya yang berbeda dan menjadi akrab dengan mereka.
Tapi bodoh, Tuanku melakukan hal bodoh, dia terlalu lama meninggalkan kapalnya di dermaga itu, yang dijaga oleh pemilik pelabuhan, hingga ia bisa lupa bagaimana wajah sang pemilik pelabuhan.
Hingga salah satu keadaan membuatnya senang dengan rekan kerja barunya. Karena berbagai alasan tuanku akhirnya memasang dan menanamkan harapan yang lebih baik jika iya pindah pada pelabuhan demi kelangsungan kapalnya, dan rencana tuanku itu disepakati bahkan gubris baik oleh calon pemilik pelabuhan kapal tuanku yang baru. Ini demi kapalnya, maka iya mencari tahu keberadaan pelabuhan itu dan hampir saja iya berlabuh menuju tujuan yang baru, nyatanya pelabuhan itu sudah penuh, sudah tak ada tempat untuk kapal tuanku.
Tuhan, iya baru saja hendak menjalankan kapalnya untuk segera memutar haluan meninggalkan pelabuhan dan dermaganya yang lama, untung saja tuanku segera tahu bahwa pada pelabuhan itu sudah tak ada ruang. Pemilik pelabuhan itu mungkin baik, hingga mau menerima hanya karena butuh teman dan partner kerja yang baik. Ia ramah menawarkan tapi tidak berarti sesungguhnya. Hingga membuat tuanku harus tersadarkan bahwa dia siapa, dan hendak kemana, nyatanya dia pun mengurungkan niatnya untuk berlabuh pada pelabuhan baru dan memilih menetap pada pelabuhan yang sama.
Indah Nur Pratiwi. Sabtu, 23 November 2019, diantara sisa hembusan air hujan dan debu yang berterbangan di Lapangan Batili, Enrekang.
Komentar
Posting Komentar