Pergi bukan untuk meninggalkan dan kembali tidak untuk selamanya. Itu yang sedang dia lakukan, ada lelah, jenuh, dan rindu yang hendak dia bawa pergi dengan harap besar bahwa kembali menjadi bayarannya. Memilih menjadi sedikit egois, menambah lamanya kaki berpijak pada kota yang ditinggalkan, dan melupa dengan dia, dia, dia, dan dia yang ada di tanah rantau karena kejenuhan dengan dia. Lalu apa yang dia temukan pada dunia kota madya?
Melangkahkan kaki pada wilayah kampus, menemukan kawannya disana sedang dalam proses penyelesaian studinya, bertemu dengan kawanan mahasiswa yang berdemonstrasi, atau mungkin bertemu dengan kawannya, kakaknya, sekaligus ketuanya yang juga ikut kembali ke kota itu dengan rasa dan tujuan yang berbeda namun hampir sama. Tidak lupa pula dia bergabung dengan serangkaian aktivitas yang sudah tercacat dan disusun dengan sebaik-baiknya oleh para pengabdi di kampus atau mungkin saling berbagi cerita dengan seorang kakak yang sangat akrab dengannya pada wilayah kampus. Banyak bukan? Masih ada yang dia rasa kurang?
Iya!!! Tentu saja, dia akan berharap pada Tuhan bahwa “Tuhan saat dia akan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kota itu sekali lagi, maka buat iya lupa bagaimana sedihnya dia di kota itu, hingga akan membuat dia, sekali lagi merindukan kota itu untuk kembali”. Ada lelah dan jenuh yang terbalaskan dengan rutinitas disana, namun masih ada rindu yang tidak terbayarkan selama 4 hari di sana, bahkan hingga kaki ini akan beranjak masih ada harap untuk rindu itu terbayarkan. Mungkin efek sepi dan kosong di kota Metropolitan ini menjadikan dia, dia, dia dan dia lainnya sibuk mencari pelampiasan sepi di sana.
Jika pulangnya kemarin hanya dihabiskan waktu bersama dia dan dia, justru kali ini tidak satupun dari dia yang berminat bertemu dengan dia, dia yang lain memang sengaja untuk tidak berbalas temu selalu dengan dia, ada kecewa entah dari mana yang dia simpan untuk dia, dia, dia, dia, dia, dia, dan yang terjadi pada dia, telah dia ceritakan sebelumnya hingga jika dia ingin tahu bahwa ada masa dia merasa bahwa dia memilih pulang juga untuk dia tapi dia tidak ingin berdamai, hingga mata itu harus berusaha dengan kuat menahan.
Atau mungkin dia, yang hanya menyatakan bahwa jarak dan waktu yang tidak mempertemukan hanya sesingkat itu, tidak adakah usaha bertemu dengan kawan? Atau mungkin dia pula yang dengan alasan hujan, tidak menginjakkan kakinya ke wilayah kampus itu, yang tahukah dia bahwa 2 hari dia menunggu. Nyatanya, pulang tidak selamanya menjadi jawaban atas pertemuan. Tapi dia hanya bisa bersyukur bahwa, pulangnya dia masih bisa bertemu dengan salah satu yang paling akrab hingga dia lebih dulu memilih kembali. JANGAN RISAU INI HANYA PERSOALAN PULANG DAN PERGI, ITU SAJA.
“Karena kau memilih bahagia, maka bersenang-senanglah dengan mereka, jangan bersamaku yang ada hanyalah susah, dan selama kepergianku, kuharap kau tidak merasakan susah”.
Oleh Indah Nur Pratiwi, Makassar Sabtu 09 November 2019 tepat sebelum beranjak kembali ke lokasi KKN, Enrekang.
Komentar
Posting Komentar